Home / Blogging / Cara Meneruskan Kebaikan Orang Tua yang Sudah Meninggal Dunia
nchie hanie | blogger bandung | emak2 blogger | blogger perempuan

Cara Meneruskan Kebaikan Orang Tua yang Sudah Meninggal Dunia

Cara Meneruskan Kebaikan Orang Tua yang Sudah Meninggal Dunia. Dalam memoryku mengenalnya begitu dekat, bahkan disamaratakan dalam kasih sayang dan perhatian meski aku bukan anak kandungnya. Sosok laki-laki sederhana, pekerja keras, Beliau lah laki-laki  yang terbaik di mataku , bertanggung jawab pada keluarga, temannya dan kerabatnya. Menurutnya tradisi sebagai orang jawa siapapun adalah saudara, apalagi merantau ke Kota Kembang ini menemukan saudara-saudara baru, sebut saja temannya.

Jangankan pada keluarganya,pada setiap orang pun baiknya minta ampun. Mengajrkan kebaikan dan berbagi pada sesama itulah didikannya.  Kenapa ya, setiap laki-laki baik yang dekat denganku, Kau begitu cepat mengambilnya, belum puas aku merasakan kasih sayangnya. Kehilangan figur sosok laki-laki Ayah Kandungku dan Ayah Tiriku yang memberikan warisan “terlalu baik” pada sekitarnya.

Sosok Ayah Kandung, yang sering dipanggil dengan sebutan “Aden” kependekan Raden Suhandi, semasa hidupnya konon satu-satunya manusia yang terbaik diantara keluarga besar dan sekampungnya. Sayang, aku ga merasakan kasih sayang dan melihat wajahnya karena beliau dipanggil dalam usia yang sangat muda, ketika aku masih bayi  usia 3 bulan. Sampai saat ini, aku hanya dibekali dengan cerita kebaikan-kebaikannya saja.

Dan jika berkunjung ke rumah kerabat, mereka akan memanggilku dengan sebutan “ Anaknya Aden/Si Aden” Mereka pasti memelukku ambil nangis, karena wajahku yang copy paste banget Ayah Kandungku.

Sosok Ayah Tiri, yang sering aku panggil “Mas” pun sama, selama 25 tahun aku bersamanya seperti layaknya Ayah Kandung, semasa hidupnya begitu baik, bahkan terlalu baik terutama sama tetangga dan kerabatnya. Sampai suatu saat dipanggil, ga berhenti  yang berdatangan, tangisan kehilangan mereka melebihi tangisan keluarga. Kami, ketiga perempuannya diajarkan untuk mandiri, segala bisa, ga boleh cengeng dan satu lagi berbagi kebaikan. Dulu tak paham, mengapa kedua orang tua begitu baik banget sama tetangga, yang sudah dianggapnya saudara.

Kini, setelah menikah bau aku merasakannya dan semenjak kepergiannya baru merasakan oh begitu ya, kebaikan yang dilakukan sama Mereka yang berimbas padaku saat ini. Selalu mengingatkan setiap Bapak dan Mama menyebarkan kebaikan, insyaallah nanti buat anak-anaknya pula, hiks.

“Iya..”

“Iya, Pak!”

Berasa banget ko saat ini, aku pun begitu masih merasakannya, dan sudah selayaknya aku berbagi kebaikan pula dengan sesama. Makanya jika ada sahabat yang mengingatkan aku untuk  tidak bersikap “terlalu baik” hatiku menolak, ternyata sudah bawaan dari sananya, meski terkadang mendapatkan musibah atau dicelakai, disakiti temen, kerabat, ya sudahlah yang penting berbuat baik saja, biarkan urusanku hanya denganNya saja. Kangen..

Aku menyesal memanggilmu Mas , maafkan aku anakmu yang baru menyadari   begitu besar kasih sayangmu menyayangi aku seperti anak kandungnya sendiri.

Aku akan selalu merindukan Mas yang selalu menggendongku di punggung berlari-lari kecil, aku akan tetep menunggu kapan Mas libur agar aku di ajak main ke Alun-alun.

Mereka yang sudah pergi menghadapNya, meninggalkan aku sebuah warisan untuk melanjutkan kebaikannya. Apa yang harus aku lakukan untuk tetap melanjutkan kebaikannya mereka,  diantaranya :

  • Mendoakannya adalah hal yang tak henti kupanjatkan dalam setiap doa-doaku.
  • Menyambungkan silaturahmi dengan berkunjung kepada keluarga kerabat, temannya, meski tak bisa bertemu langsung karena jarak yang terlalu jauh atau kesibukan rutinitas minimal mengabari lewat smartphone ataupun di jaman sekarang serba digital bisa lewat sosial media.
  • Memuliakan teman-teman keduanya, rekan kerjanya, kerabatnya keduanya. Sebagai anak yang  menghormati dan memuliakan mereka, hal kecil yang bisa dilakukan adalah  dengan bertutur kata yang  sopan dan baik kepada mereka, menjenguk saat mereka sakit.
  • Mengamalkan ajaran-ajarannya, untuk selalu mandiri, tidak bergantung pada orang lain, berbagi, menolong sesama bagi yang mebutuhkan.

Tak ada kata-kata lagi, rasanya bayangan mereka saat ini tepat di depanku, semoga keduanya tetep bangga padaku, karena sampai saat ini tetap menjunjung kebaikan sebagai satu-satunya warisan yang berharga.

About nchiehanie

Namaku Nchie Hanie, Aku adalah Simple Mom, Anggota Komunitas Blogger Bandung, Relawan TIK dan masih aktif sebagai Public Relationship di CV. DEWA SEO

14 comments

  1. Teruslah kita berdoa untuk mereka yang sudah tiada yang Nchie. Semoga doa-doa kita sampai kepadanya. Meringankan langkahnya. Aamiin.

  2. kenangan orang2 tersayang tak pernah bisa hilang ya mbak meski sudah bertahun2

  3. Wah usia 3 bukan Teh? Duh…
    Saya usia 13 tahun ditinggal bapak…
    Sama didikannya supaya saya mandiri, dan bisa melakukan apa yang bisa dilakukan laki2…
    Jangan heran kalau saya biasa naik atap betul in genteng, naik pohon ambil kelapa, dan ngaput sepatu sendal alias ngasol!

  4. Wah teh, aku malah ibu kandungku dulu yang kupanggil “yayuk”. Itu karena aku ngga tau kalo dia ibuku, taunya dia kakak perempuanku krn dr lahir aku diasuh kakek nenek. Untung pas SMP aku bisa mulai nerima kenyataan kalo yayuk itu ibuku, jd ubah panggilan.

  5. Teteh, salah satu cara yang aku lakukan adalah mengunjungi sahabat almarhum mama saya

  6. Bnr bngt teh,,,, jd ingat almarhum bpk,,, pernh bicara spt itu ktk mau pergi

  7. Meneruskan kebaikan kedua orangtua salah satunya silaturahmi ya teh dengan orang2 terdekat mereka dahulu..semoga silaturahmi tsb tetap terjaga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *