Home / Tips / Merangkul dan Memeluk Amarah
merangkul diam l memeluk amarah l nchiehanie

Merangkul dan Memeluk Amarah

Merangkul dan Memeluk Amarah. Setiap jiwa pasti merasakan sendiri apa yang terjadi dalam dirinya. Berada diantara zona ga nyaman, setidaknya akan membuat hati dan pikiran tak menentu. Sudah sangat manusiawi, rasa kesal, amarah, benci bersemayam dalam diri. Terutama rasa amarah, yang awalnya hanya bentuk pertahanan diri . Tapi seringnya justru menggunakan kemarahannya untuk menyakiti, mengintimidasi sesamanya dengan meluapkan emosinya.

Kemarahan tidak mendatangkan suka cita, ga sedikit pun merasa diuntungkan. Yang ada ketika marah, maka sel-sel saraf di dalam otak melakukan bunuh diri secara massal. Maka dari itu ketika rasa marah datang. Hanya memiliki 2 pilihan, apakah akan menuruti kemarahan ini ataukah akan melawan kemarahan.

Meyakini bahwa setiap manusia pada umumnya mengharapkan kehidupan bisa berjalan dengan aman dan tentram. Mengharapkan hubungan dengan pasangan, sahabat, ataupun anggota keluarga dan sekitar lingkungan akan terjalin kedamaian serta kerukunan. Tapi nyatanya secara sadar tidak mungkin bisa menghilangkan naluri untuk bertahan ketika sebuah masalah datang menghampiri. Dimana masalah-masalah tersebut dapat menyulut emosi, apalagi sebagai perempuan yang terkadang jika amarah datang, masalah yang lalu mulai di ungkit kembali (iya kan? ngaku!) 😀

Kemampuan setiap orang dalam mengatasi amarah tentunya sangat berbeda. Dan biasanya aku akan diam seribu bahasa. Tatkala amarah menumpuk  nanti bakalan ada bom waktu pada saat yang tak terduga. Mengatasi kemarahan ga seharusnya dibalas dengan rasa amarah lagi. Tak mungkin padamkan api dengan api kan. Mengendalikan amarah dalam diri ibarat berperang melawan diri sendiri sebagai musuhnya.

Ada beberapa cara yang sering dilakukan untuk mengatasi amarah :

1. Latihan bernapas

Menyadari…
Ketika kemarahan datang bisa belajar terus berlatih bernapas masuk, bernapas keluar sambil mengatakan, “Hai Kemarahanku.”

Bernapas masuk, “Aku sadar kemarahanku datang.”

Bernapas keluar, “Aku mencoba untuk tersenyum.”

Saat sedang marah ratusan otot-otot diwajah tegang. Tapi jika memahami bagaimana cara bernapas masuk dan bernapas keluar serta senyum, meski senyumnya terkesan dipaksakan, setidaknya akan menghadirkan ketenangan.

2. Diamlah Sejenak

Biasanya ketika marah hal yang paling aku takuti adalah kata-kata kotor dan makian akan keluar tanpa disadari. Sebelum hal tersebut terjadi, bisa memilih untuk diam dan akan segera keluar dari lingkaran yang membuat emosi. Mendingan menjauhkan diri sejenak diam, merangkul diam. Setelah merasa tenang dan bisa meredam dengan sendirinya akan meminta maaf (barangkali ada kata-kata kotor dan kurang berkenan).

3. Tersenyum

Tatkala marah jangankan tersenyum, rasanya mungkin bentuk muka dah ga beraturan ya. Namun tetep janganlah matikan api dengan api, atau menyelesaikan masalah dengan masalah. Ketika sedang terlibat konflik dengan seseorang, yuk berikan senyum an agar dapat membantu meredakan emosi.

Mencoba untuk menghindari kemarahan cenderung menjadi boomerang. Berusaha untuk menyangkal rasa marah dengan menutup rapat rasa tersebut seperti menciptakan pembuangan racun dalam diri sendiri. Dan racun itu pada akhirnya akan mengalir keluar membahayakan diri sendiri dan orang-orang sekitar.

Rasa amarah sebenernya baik untuk diekspresikan. Pastinya dikondisi yang aman dan memungkinkan untuk meluapkan amarah dengan memukul dan menendang bantal, memecahkan gelas, piring dan sebangsanya. Dengan begitu  melepaskan, mengeksplorasi dan bergerak melampaui kemarahan (pengalaman banget) 😀

Tetaplah menyadari setiap  emosi yang  hadir aman terkendali. Tak perlu takut, hayu bertegur sapa dengan  emosi yang hadir dan mencoba menjalin persahabatan dengannya.

Menyapa amarah yang kini datang :

“Halo, haii kemarahanku. Kamu adalah sahabat lamaku.”

Dengan begitu, kesadaran akan memeluk kemarahan diri dalam tangannya. Hayu rangkulah dan peluklah amarah secara utuh, dengan menyadari juga kalo kemarahan itu sangat berharga.

Ini caraku kalo lagi “nguambek gede” (ngamuk) caramu bagemana niy?

About nchiehanie

Namaku Nchie Hanie, Aku adalah Simple Mom, Anggota Komunitas Blogger Bandung, Relawan TIK dan masih aktif sebagai Public Relationship di CV. DEWA SEO

32 comments

  1. dan tentu saja mendekatkan diri pada Allah swt, membiasakan memperbanyak beribadah sunnah dan tentu saja yg wajib.
    itu saja sudah cukup, dan tentunya dgn mengatasi permasalahan yg dihadapi.

    • tepat sekali…
      kalo menurutku itu ga perlu tercatat, cukup personal antara manusia dan penciptaNya *tak perlu di umbar2 😀

  2. setuju banget bun, atur nafas dan diam sejenak memang paling ampuh buat meredam rasa marah.
    lagipula, kalau sering marah-marah kan nanti cepet tua~ 😛

  3. Haha…aku kadang nggak bisa mengendalikan amarahku, Teh. Susyaah…tapi pengen mencoba cara ini..biar nggak cepet tua hihiw..

  4. Kita gak boleh kalah sama amarah emang ya mbak ^^

  5. Aku kalo lg marah langsung mengurunf diri di kamar sampe reda. Kalo ga bisa berabe hahaha

  6. duh, berusaha mengelola amarah apalagi pada anak2 hiks hiks..nuhun tipsnya ya teh…

  7. Duh ngebaca ini semacam ketampar, ntah kmrn di kantor kesambet apaaaa. Teman kerja nggak sengaja saya bentak, duh! Nyesel banget, istighfar…..
    Anger management seperti yang disebutin itu mutlak diperlukan ya teh. Tfs ^^

  8. Kalau kata Rasulullah ambil wudlu, kalau masih marah berbaringlah….. tapi suka susah lagi marah lgs wudlu yg ada pengen ngabisin kemarahan dulu, syetan paling senang dkt org marah hihi..

  9. samma!, tarik nafas, diam, pasang senyum, itu udah mencakup semuanya kalo buat saya 🙂

    makasih artikelnya mbaa..

  10. samma!, tarik nafas, diam, pasang senyum, itu udah mencakup semuanya kalo buat saya 🙂

    makasih artikelnya mbaa..

  11. Sayang ah Nchie kalau marah-marah mecahin gelas, nanti nyesell udahnya hehehe. Mendingan mukul bantal, paling jadi rada lepek jiahahaha eh tapi kalau udah lepek nantinya ga enakeun kalaau dipake, ya. Ya udah, mending diem aja kalau marah. Menepi sejenak, menarik diri dari keramaian cukup membantu meredaka emosi dan menenangkan pikiran.

  12. Aku bs aja sih ngendaliin, tp kalo org dekat biasanya malah gak bs ngontrol hehehe

  13. Kalau lagi ngambek biasanya tidur wkwkwk

  14. Kalo aku, jika amarah gede melanda, dua gantubgan baju akan jadi korban. Patah jadi pecahan2 kecil. Rasanya puas banget krn amarah tersalurkan, baru setelah itu beli lagi deh gantungan bajunya… hehe.

  15. Duh, butuh latihan keras untuk bisa bilang:
    “Halo, haii kemarahanku. Kamu adalah sahabat lamaku.”
    😀

  16. Huhu yang paling susah senyum teh, aku biasanya diam aja cari kegiatan. Biasanya kalau lagi emosinya dirumah, pergi ke balong dan semedi di bawah puun. hehehhe
    Harusnya emang bisa mengendalikan amarah ya, biar ga sampe meledak-ledak

  17. kadang sulit banget teh nahan amarah itu…suerr….aku belum bisa 🙂

  18. amarah bagaikan mendung yang lewat di atas kepala, menunggu angin lewat untuk menghembusnya.

    tapi mengapa angin tiada datang juga.

  19. Cara marahku…. diam tehh, menghindari orang2. Kalo butuh dikeluarkan biasanya nangis….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *