Home / Blogging / LSF Mengajak Masyarakat Budayakan Sensor Mandiri

LSF Mengajak Masyarakat Budayakan Sensor Mandiri

LSF Mengajak Masyarakat Budayakan Sensor Mandiri. Perkembangan film sekarang ini begitu pesat, saatnya perlu banget Memilah dan Memilih Tontonan (MMT) Film salah satunya dengan Sensor Mandiri. Ini sih pedoman buat aku sebagai orang tua yang mempunyai anak Abege yang sukanya nonton film di bioskop. Apalagi semenjak beranjak menjelang dewasa seringnya menonton bareng teman-temannya. Merasa khawatir tentu saja, tapi tetep dengan komunikasi dan keterbukaan mau menonton apa dengan siapa pasti suka diceritain. Membuat diri ini jadi tenang.

Jadi weekend lalu ku mendapatkan ilmu yang keren banget, berfaedah sebagai penikmat dan pengamat film belajar lagi yang nmanya MMT. Belajar dan dapet edukasi lagi dari acara ini, semacam reminder buat aku dan semoga buat yang lainnya. Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Sensor Film dengan Kemendikbud dan Forum Film Bandung bertemakan “SOSIALISASI PERMENDIKBUD No 14 tahun 2019” tentang Pedoman dan Kriteria Penyensoran Penggolongan Usia Penonton dan Penarikan Film dan Iklan Film dari Peredaran.

Raja Lubis

Acara yang berlangsung di Hotel Aston Pasteur Bandung, 27 Juli 2019, dihadiri oleh para pengamat film, stakeholder dan komunitas film, dipandu oleh MC Kondyang dengan suara khasnya Raja Lubis, dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya lalu sambutan dari Bapak Dodi Budiatman selaku Wakil Ketua Lembaga Sensor Film. Whuaa, ini yang paling menarik talkshow dengan Moderator bapak Eddy. D. Iskandar
sebagai Penulis Novel & Skenario, Ketua Umum Forum Film Bandung. Menghadirkan pemateri pada bidangnya masing-masing seperti :

  • Drg. Rommy Fibri Hardianto (Anggota Komisi Bidang Hukum & Advokasi LSF)
  • Narwanto, S.H (Biro Hukum & Organisasi Kemendikbud RI)
  • Prof. Zaitunah Subhan (Ketua Komisi II Bidang Hukum & Advokasi LSF)

Aku langsung mengingat jelas apa yang disampaikan oleh Ibu Zaitunah, penjelasan yang begitu realita banget dan nendang tentang Memilah dan Memilih Tontonan Film. Terutama panduan buat orang tua dengan mengenalkan Sensor Mandiri.

Mengenal Sensor Mandiri , Yuk!

Sensor mandiri adalah perilaku secara sadar dalam memilah dan memilih film yang akan diproduksi, dipertunjukan atau ditonton. Ini sih seharusnya bekal wajib buat orang tua yang akan menonton film baik di Televisi ato di Bioskop. Seringnya ku temukan fenomenal di Bioskop, miris rasanya, kalau pas antri beli tiket masih saja ada yang membawa anak dan menonton yang bukan usianya bahkan sampai adu argumen dengan Mba kasirnya.

Mengapa perlu sensor mandiri? Jelas perlu banget apalagi buat orang tua penikmat film harus bisa MMT. Sebelum menonton kalau aku harus tahu dulu ini film untuk usia berapa dan tentang apa. Selain itu biasanya kan suka ada teaser setidaknya tahu bagaimana gambar, adegan, dialog dan suara dalam film itu, dan tak lupa tetep mengutamakan apakah hikmah yang dapat diambil dari film tersebut.

LSF terus mensosialisasikan budaya Sensor Mandiri ini dengan MMT dan
diharapkan dapat memicu kepedulian masyarakat terkait dengan peruntukan usia pada film-film tertentu. Seperti yang diketahui, LSF pun membagi kategori dengan klasifikasi Semua Umur (SU), 13 Tahun ke Atas (13+), 17 Tahun ke Atas (17+), dan 21 Tahun ke Atas (21+).

Tips menonton film, sebaiknya :

  1. Mendampingi anak saat menonton.
  2. Memilih film yang sesuai dengan usia anak.
  3. Batasi jam untuk menonton
  4. Mengingatkan kepada anak akan hal-hal baik yang layak ditiru dan penananman nilai-nilai positif.


Nah, semoga bisa membukakan hati dan pikiran orang tua tentang Sensor Mandiri ini, tentu saja perlu kerjasama dengan Bioskop yang memberlakukan aturan lebih ketat lagi dengan menyaring kembali penonton yang bukan pada usianya.

Buku Panduam buat Ortu , MMT.

Seru banget nih, LSF yang mengajak masyarakat untuk budayakan Sensor Mandiri. Ayo, kita praktekan yaa Ayah-Bunda, Papa-Mama, Om-Tante dan Anak Milenials . Siapa lagi yang mendukung kalo bukan KITA.

About nchiehanie

Namaku Nchie Hanie, Aku adalah Simple Mom, Anggota Komunitas Blogger Bandung, Relawan TIK dan masih aktif sebagai Public Relationship di CV. DEWA SEO

18 comments

  1. Sama suka kesal kalau ada ortu yg ngajak anaknya nonton film dewasa, sudah dibilangin baik2 pun kadang ngeyel ��

  2. Zaman sekarang ya, tontonan itu macem-macem. Jangankan di internet, di TV pun masih banyak yang bikin takjub karena tayang di jam anak-anak pada nonton. Kayak kemaren tuh, anak keempat nanya soal ayah Nobita yang mabuk di kartun Doraemon. Hadeuh, susah jelasinnya. Mungkin buat orang Jepang itu budaya yang gak masalah. Tapi di kita kan enggak. Beneran kudu self sensor dan dampingi banget deh kalo anak-anak nonton.

  3. Sensor Mandiri ini penting banget ya, apalagi yang punya anak kecil, tentunya pendampingan orang tua diperlukan. Kadang aku masih suka liat, orangtua ajak anak nonton di bioskop dengan film yang nggak sesuai dengan umur si anak.

  4. Sama, Teh. Meskipun udha ada sensor film, setiap kali anak mau nonton biasanya saya cek dulu. Saya juga suka tanya-tanya ke mereka kenapa pengen nonton film itu. Supaya mereka juga belajar menyensor film-film bagi diri sendiri

  5. Wah memang kudu kayak gini Mbaaaa
    Semua pihak harus mampu melakukan sensor secara mandiri yhaa

  6. Si bungsu baruaja ultah ke 17. Berarti di rumah udah nggak ada anak kecil. Tapi kalau adegan kiss, aku masih aja panik pindah channel wwkwkwkwk. Padahal kissing film kek gitu doang. Tapi kok tetep risi kalau ada anak2 meski anak2 udah besar.

  7. Setuju banget, zaman sekarang, jangan hanya mengharapkan pihak lain yang sensor tayangan buat anak kita, sebaiknya kita sebagai ortu juga lebih tanggap dalam mendampingi anak-anak kita.
    Biar bagaimanapun mandiri itu terbaik 🙂

  8. Trims sharing tips nya, nChie.. Iya kalau tdk dimulai dari kita dan dari sekarang kapan lagi? Yuk..mulai sensor mandiri

  9. Kudu banget ini sensor mandiri. Tontonan zaman ayeuna aneh-aneh. Bahkan untuk tontonan anak kecil. Banyak yang bikin tontonan cuma kepengen rating aja. 🙁

  10. Betul banget mba sebagai orang tua kita harus membuat sensor mandiri dan batesin jam menonton untuk anak. apalagi program di tv skarang menayangkan sinetron di jam anak-anak nonton kartun lagi

  11. aku pun melakukan sensor mandiri. Seperti waktu film Avengers rame di bioskop, itu kan film dewasa tapi anak-anak banyak yang nonton. Saat anakku minta nonton seperti temannya, ku jelaskan nih ada tulisannya 13+ jadi belum bisa nonton.

  12. Bener banget orang tua harus bisa jadi Lembaga Sensor sendiri buat keluarga, aku biasanya suka tanya2 orang lain yang udah nonton dulu ataulihat trielr gitu filmnya aman atau gak buat anak-anak

  13. Keren nih acaranya LSF dan saya setuju kalau orang tua harus bisa jadi pendamping anak, siap menjadi Lembaga Sensor Mandiri bagi keluarganya. Karena saat ini banyak film beredar di masyarakat, dimana film-film itu tidak semuanya mendidik dan mengandung pesan moral positif bagi penikmatnya.

  14. Persiapan juga nih buat aku yang sebentar lagi punya anak abg huhu.. kadang belum bisa menerima kenyataan deh, kalo anak anak semakin besar.. duh apalagi nanti nonton bioskop sendiri tanpa aku huhu ya walaupun sama teman temannya sih, tapi kan gimana gitu.. kok jadi curhat gini aku teh.. aku apresiasi banget sama LSF yang aware sama calon penerus generasi bangsa

  15. Budaya sensor film atau tontonan memang sudah diterapkan untuk anak mbak. Apalagi jarang nonton televisi dan main gadget saat ini jadi bisa aman. Semoga keterusan, soalnya belum dipengaruhi dunia sekolah.

  16. baca ini bikin aku belajar bagaimana searusnya jadi orang tua yang baik juga. ah acaranya bagus banget kak. update-annya juga lengkap, makasih ya kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Please enter an Access Token on the Instagram Feed plugin Settings page.