Home / Traveling / Monolog 3 Tokoh Wanodja Soenda
wanodja soenda | the lodge foundation | heni smith | nchie hanie

Monolog 3 Tokoh Wanodja Soenda

Namaku Raden Hani Sri Susilowati,  anak tunggal dari pasangan Raden Suhandi (alm) asli Sunda dan Ibu Rahayu asli Jawa. Wanita Sunda keturunan Jawa lahir di Bandung 43 tahun yang lalu. Tak mengenal sosok Bapakku, karena ketika usia 3 bulan beliau wafat. Mempunyai Bapak sambung, yang merawatku dan selalu mengajarkan tentang kemandirian seorang wanita dan menyetarakan sebuah nama dengan saudara-saudarakuku tanpa embel2 nama depan Raden.

Bahwa wanita itu harus berjuang untuk dirinya sendiri, mendapatkan pendidikan yang layak.Wanita harus berkarya, tidak harus bekerja dikantoran, dimanapun yang penting bisa menghasilkan minimal untuk dirinya sendiri dan berkontribusi dalam keluarga.  Itulah  wejangan yang sampai saat ini menempel dipikiran.

Ya, sosok wanita yang kuat, mandiri, tanpa melupakan kodratnya. Wanita yang haus ilmu dan bergerak di bidang digital. Bahwa wanita harus melek digital, menularkan virus bagaimana bisa menghasilkan pundi2 di dunia digital. Begitulah sosok wanita di jaman now, itu adalah Aku.

wanodja soenda | the lodge foundation | heni smith | nchie hanie

Wanita jaman now, baiknya melek digital

Berbicara tentang perjuangan wanita, apalagi di tanah Sunda banyak banget tokohnya. Dan The Lodge Foundation mempersembahkan, Monolog Wanodja Soenda, 29 Januari 2020 di Hotel Savoy Homan, Bandung.  Sebuah karya monolog gagasan dari Ibu Heni Smith (Direktur The Lodge Group)  dan di garap oleh Wawan Sofwan sebagai sutradara. Ibu Atalia Praratya Kamil  sebagai pembaca puisi, Inaya Wahid sebagai Narator.

Monolog ini mengisahkan tentang semangat perlawanan dari para Wanita Sunda di era Hindia Belanda yang telah berkiprah di bidang politik, seni budaya dan pendidikan. Tiga tokoh Wanodja Sunda, memaknai perjuangan dalam garis sejarah yang satu sama lain saling terhubung oleh tali semangat perubahan.

Wanodja Sunda lebih dari sekadar menginspirasi tetapi berani bertindak dan mengambil peranan besar.
Keputusan-keputusan berani, keluar dari paradigma yang menjerat lama kaum perempuan di masa penjajahan, oleh para wanoja Tanah Sunda disikapi dengan aksi dan kepercayaan akan keadilan berdiri sebagai manusia yang setara.

Heni Smith (Direktur The Lodge Group) 

Para wanodja tersebut adalah  Raden Emma Poeradiredja (diperankan oleh Rieke Diah Pitaloka), Raden Dewi Sartika (diperankan oleh Sita Nursanti) dan Raden Ayu Lasminingrat (diperankan oleh Maudy Koesnaedi), sebagai pelengkap karya ini didukung oleh Deden Siswanto (Art Director), Heti Sunaryo (Kolektor Batik Tradisional), Edrike J (Pelukis) dan Risa N (Penempa Logam).

Gadis Penempa Besi

Anak milenial seorang pelukis

Produser Ibu Heni Smith. Penulis naskah oleh Endah Dinda Jenura, Wida Waridah, Zulfa Nasrulloh & Faisal Syahreza. Pastinya sebuah karya yang hebat terlahir dari gagasan perempuan hebat.

Sabtu, 28 Januari 2020..

Menyaksikan Monolog Wanodja Soenda, yang dihadiri oleh Bapak Gubernur Ridwan Kamil beserta mentemen media dan para undangan. Unik banget, semua yang hadir bagi wanita mengenakan kostum kebaya dengan kain batik. Jangan ditanya  penampilannya mereka gimana, yang jelas berasa hadir di jaman Belanda apalagi berada di Hotel Savoy Homan yang heritage menambah suasana syahdu.

Acara yang dibuka oleh Narator  Inaya Wahid, lalu pembacaan puisi oleh Ibu Atalia, dan langsung perfomance pertama adalah sosok yang tak asing lagi, ini kisahnya.

Raden Emma Poeradiredja

Pada 13 Agustus 1902 di Cilimus, Jawa Barat, lahir tokoh Emma Poeradiredja, memulai pendidikan pada 1910-1917 di HIS ( Hollandch Inlandsce School) Tasikmalaya. Setelah itu, melanjutkan ke MULO (Meer Uitegebreid Lager Onderwijis) Bandung tahun 1917 sampai 1921. Kemudian Emma melanjutkan sekolah ke luar negeri yaitu SSVS Dientoxamont, lulusan dari sekolah ini bisa disetarakan dengan lulusan dari AMS atau HBS.

Setelah itu langsung melamar dan diterima bekerja pada staatspoorwegen (S.S) sekarang PT Kereta Api Indonesia dan pada 1957 ditugaskan untuk belajar di School for worker the Universitij of Wisconsin untuk mempelajari administrasi kesejahteraan pegawai. Setelah selesai melaksanakan tugas belajarnya Ia  mendapatkan Certificats of Achievment bidang Cooperative Administration.

Selama bersekolah di MULO, Emma aktif sebagai anggota Jong Java dan menjadi anggota Jong Islamieten Bond (JIB) sebagai ketua cabang Bandung pada tahun 1925. Tahun 1925-1940, giat pula sebagai pemimpin pandu puteri mulai dari Natipij lalu menjadi Pandu Indonesia. Aktifnya Emma dalam berbagai organisasi pemuda ikut membawa serta dalam Kongres Pemuda I (1926) dan saat kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 Emma memberikan tanggapan khususnya mengenai kemajuan wanita dan pendidikan.

Emma merupakan tokoh yang aktif dalam berbagai bidang, Ia mendirikan PASI (Pasundan Istri) pada 1930 dan menjadi ketuanya hingga 1970, Menjadi ketua Kongres Perempuan Indonesia III pada 1938. Dalam Bidang Sosial Ia mendirikan dan menjadi ketua Pengurus panti asuhan di Bandung (1935), mendirikan rumah Jompo di Bandung (1936), serta menjabat sebagai ketua Badan Keselamatan Rakyat (BKR) bagian wanita di Bandung serta Direktur utama Yayasan Kematian Warga Kereta Api (KWKA). Selama perjalanan karirnya, Emma pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) tahun 1959-1965.

Bagaimana rasanya bersuara tapi orang2 tak mendengar? Aku tau betul rasanya, begitulah dunia bekerja kepada kami perempuan. Perempuan sejatinya adalah penyangga suatu bangsa, mitra laki2 dalam membangun masyarakat secara bersama. Perempuan harus punya keleluasaan dalam menyuarakan pendapat.

Perempuan harus terlibat dalam perjuangan. Perempuan harus bisa berdiri sendiri. Meski menjadi tahanan mengorbankan jiwa dan raga, kami tak akan pernah berhenti mencintai negeri ini Indonesia.

Suaraku terus terdengar kepada seluruh permpuan di negeri ini. Saudaraku perempuan di tanah air, baktikanlah hidupmu, berikanlah segenap tenaga untuk membangun negeri ini, berjuang dan bekerja sama dengan laki2 sebagai sama sama maanusia yang merdeka.

Terus berjuang, bekerja keras terus,  jangan pernah berhenti selalu ada hasil bagi setiap bangsa yang tak henti berjuang.

MERINDING,  mata berbicara, ekspresif, monolog dari Rieke Dyah Pitaloka yang menyentuh, diselipin dengan  obrolan bahasa Sunda yang membuat semua audience tertawa.

Raden Dewi Sartika

Siapa yang ga kenal dengan tokoh Dewi Sartika, lahir dari keluarga Sunda yang ternama, yaitu R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapermas di Cicalengka pada 4 Desember 1884. Ketika masih kanak-kanak,  selalu bermain peran menjadi seorang guru ketika seusai sekolah bersama teman-teman. Setelah ayahnya meninggal tinggal bersama dengan pamannya. Menerima pendidikan yang sesuai dengan budaya Sunda oleh pamannya, meskipun sebelumnya ia sudah menerima pengetahuan mengenai budaya barat pada tahun 1899, ia pindah ke Bandung.

Tahun 1904,membuat sekolah yang bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910. Pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, lalu kemudian berkembang menjadi satu sekolah tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920. Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi.

Dunia bukan sekedar menulis surat cinta. Siap melihat dunia dengan membaca dan menulis, lalu ia pun mengajarkan membaca, menulis, berhitung dan belajar bahasa Belanda. Menjadi Guru adalah pekerjaaan yang mulia.

Raden Ayu Lasminingrat

“Namaku Raden Ayu Lasminingrat”

“Tidak banyak perempuan yang didukung keluarganya untuk belajar. Tetapi aku? Ayahku mendukungku untuk belajar seluas-luasnya”

Itulah salah satu kutipan ketika  salah satu tokoh Wanodja Soenda, Lasminingrat yang diperankan oleh Maoedy Kusnaedi. Mata, hati dan pikiran tertuju pada sosok di depan mata dengan  pas banget memerankan  karakter Lasminingrat. Mendengarkan kisahnya, sosok yang pada jamannya lebih kekinian dan terpelajar berusaha untuk mengajari masyarakat secara pelan-pelan meskipun berat, penuh perjuangan yang tak mudah kala itu.

Raden Ayu Lasminingrat adalah seorang pelopor kemajuan wanita Sunda, dan pendiri Sakola Kautamaan Istri. Putri sulung pasangan Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria, seorang penghulu sekaligus sastrawan sunda. Ketika zaman kolonialisme pendidikan untuk bumiputera-bumiputeri dengan poltik etis belumlah menjadi hak asasi warga Nusantara, terutama kaum perempuan, dan atas kesadaran pentingnya pendidikan maka Raden Haji Muhamad Musa mendirikan sekolah Eropa (Bijzondere Europeesche School) dengan menggaji dua orang guru Eropa.

Di sekolah ini orang Eropa (Belanda) dapat bersekolah bersama-sama dengan anak-anak pribumi, juga anak laki-laki bercampur dengan anak-anak perempuan. Ada pula yang menyebutkan Kontrolir Levisan atau Levyson Norman, seorang ekretaris Jendral Pemerintah Hindia Belanda kenalan baik sang ayah yang mengasuh Lasminingrat hingga mahir dalam menulis dan berbahasa Belanda.

Materi pembelajaran berupa membaca, menulis, Bahasa Belanda, dan umumnya mengenai kebudayaan barat. Dari pengalaman didikan langsung tersebut, Lasminingrat mempunyai angan jauh ke depan serta bercita-cita, –sama halnya dengan Dewi Sartika atau Kartini di kemudian hari, untuk memajukan peranan dan kesetaraan derajat perempuan Nusantara.

Para Wanodja di Tanah Soenda yang menghadapi berbagai macam dinding penolakan & penindasan dan upaya mereka menyalakan “api perlawanan” dengan khas nan cerdas. Meski berbeda kota , generasi bahkan ruang jalur perlawanan tetapi satu sama lain menguatkan lewat keniscayaan kesetaraan dalam hidup bernegara dan mengabdi sebagai Manusia Indonesia.

Wanodja Soendda yang menginspirasi

Suasana PressCon Wanoedja Soenda

Pementasan Tiga Tokoh Wanodja Soenda ini, didukung oleh Kang Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat, semoga makin banyak Wanodja Soenda lainnya dan perlu banget untuk diviralkan bahwa  ada tokoh Wanita Sunda  yang berprestasi. Dan Wanodja Soenda ini semoga bisa roadshow di  Jawa Barat dan Se-Indonesia bahkan Luar negeri.  Mereka tiga sosok yang layak mendapatkan peran Wanodja Soenda.

Seluruh Crew Monolog Wanodja Soenda

Asli keren banget, menonton Monolog Wanodja Soenda sampai bangga, speechless sama mereka yang memerankan tokoh2nya.

Sukses buat Ibu Heni Smith dan The Loudge Foundation

 

About nchiehanie

Namaku Nchie Hanie, Aku adalah Simple Mom, Anggota Komunitas Blogger Bandung, Relawan TIK dan masih aktif sebagai Public Relationship di CV. DEWA SEO

65 comments

  1. Ternyata banyakya tokoh wanita sunda yang menginspirasi. Sayangnya tidak banyak generasi muda sekarang yang mengenalnya.

  2. Acara yang bagus untuk memperkenalkan para pejuang wanita tanah sunda khususnya kpd generasi muda

  3. Saya tahunya Dewi Sartika aja, karena pernah di pelajari di pelajaran Sejarah. Yang lainnya, baru tahu setelah membaca tulisan ini.

    Salut buat Ibu Heni Smith dan The Loudge Foundation yang telah menyelenggarakan acara hebat ini.

  4. Gak percaya Teh Nchie usianya 43 tahun… kayak yang jauh lebih muda. Nama-nama wanodja soenda bagus-bagus ya Teh…

  5. Aku ikut merinding mbak. Perempuan biasanya jadi kaum nomor dua hiks. Padahal mereka juga jadi pejuang ya sejak dulu. Itu gadis penempa besi keren tenan

  6. pas banget deh penokohannya dengan ciri khas garis wajah orang-orang sunda yang cantik dan kalem. Bisa belajar banyak dari kisah mereka ya teh. Pejuang sesungguhnya.

  7. Keren pisan Teh Nchie! Aku berasa nonton langsung monolog ke-3 tokohnya. Ini gimana ya kalau nonton langsung? Bakal merinding disko deh

  8. Monolog-monolognya menggetarkan kalbu
    Semangat perlawanan dari para wanita Sunda di era Hindia Belanda yang telah berkiprah di bidang politik, pendidikan dan seni budaya,membuka mata kembali pentingnya kita menengok kiprah perempuan

    Ini aku bandingkan dengan MONOLOG TIGA WANITA
    Pertunjukan monolog yang menggabungkan fragmen beberapa karya sastra ini diproduseri oleh Happy Salma. Adalah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, dan Nayla karya Djenar Maesa Ayu, beberapa karya sastra yang ditampilkan kala itu.

  9. Duh teh, pengennya aku bisa disana, apalagi menyaksikan langsung monolognya. Pasti akan sangat wow. Aku suka cerita-cerita yang based on true story gini. Belajar sejarah

  10. Teh, ya ampyuun keren buangeettt ini monolognyaaa
    Paling demen yang part Rieke Diah Pitaloka

    Suaraku terus terdengar kepada seluruh permpuan di negeri ini. Saudaraku perempuan di tanah air, baktikanlah hidupmu, berikanlah segenap tenaga untuk membangun negeri ini, berjuang dan bekerja sama dengan laki2 sebagai sama sama maanusia yang merdeka.

    Terus berjuang, bekerja keras terus, jangan pernah berhenti selalu ada hasil bagi setiap bangsa yang tak henti berjuang.

    MANTAABBB!

  11. Kalau bahasa Jawa, Wanodya, mirip ya ejaan Sunda dan Jawa, mungkin pada dasarnya nggak banyak beda antara Sunda dan Jawa, termasuk perjuangan paraa perempuan di jaman dahulu. Monolog, sebuah karya yang berbobot dengan pemeran yang tidak diragukan lagi.
    Kalau saja acaranya di Jakarta, meskipun bukan even blogger aku akan nonton.

    • Iya beti yaaa, Banget berbobotnyaaa..

      Ini bukan event blogger juga Maak.
      Cuma keberyulan aja ada undangan beberapa personil, karena memang udah deket sama Bu Heni n teamnya.

  12. Usia kita beda tipis ternyata, saya 44 🙂
    Membaca judulnya saja saya sudah terbayang keseruan pertunjukannya. Apalagi ketiga tokoh wanodja Soenda diperankan oleh tiga perempuan yang pas pula untuk mereka. Ini enggak ada rencana sampai Jakarta ya pertunjukannya…penasaran saya

  13. Maapkeun Teh Nchieee, aku gagal fokus sama Mpok Maudy. Orangnya ayu tenan deh, awet banget mukanya dari dulu kek gitu ajaa xixi

  14. woaaa gadis penempa besi. hebat sekali. saya kira hanya ada di jaman kerajaan ternyata aslinya masih ada ya di era kini. salut dg akting Rieke Dyah Pitaloka dan wanita2 hebat lainnya.

  15. Sejak dahulu kala Indonesia punya wanita2 tangguh yang tak pernah berhenti berjuang. Monolog 3 wanoedha soenda seakan pasti tampil begitu menarik karena berdasar kisah nyata

  16. Wuih yang membaca monolog artis-artis terkenal ya. Saya pernah mendengarkan monolog baru sama sih butet kertarejasa, kalau yang perempuan baru baca deh kali ini.

  17. Akju belnm pernah nonton monolog teh, seru ya ini bisa tahu sejarah Sunda juga. Kalau Sita aku pernah lihat perannya di teater gitu

  18. Keren banget ya performnya. Semuanya menjiwai dan pemilihan wajahnya juga mirip-mirip. Paaas. Paling suka pas pementasan monolognya Emma, celotehan sundanya bikin ngakak

  19. Ini bagus banget , terasa banget perjuangan ketiga tokoh wanita ini. Kita sebagai wanita zaman now juga harus memiliki semangat seperti mereka. Menjadi wanita yang merdeka dan berpendidikan. 🙂

  20. Perempuan, Wanita zaman dulu tuh banyak yang keren-keren. Zaman sekarang, kita enggak boleh ketinggalan dong! Apalagi kesetaraan sudah banyak didengungkan

  21. Pemainnya keren keren banget teh, ngga kebayang ih ngeliat langsung pertunjukannya.. merinding pasti aku.. merinding tapi bangga bisa melihat monolog 3 tokoh wanodja soenda.. hidup wanita.. merdeka, mandiri dan menginspirasi

  22. Asyik ya teh bisa ikut acara wanoja soenda, klo dewi sartika mah tahu, tapi emna ini saya baru tahu, orang sunfa ga tau sejarah, tutup muka pake wajan
    Btw teh, meni awet muda, rahasianya apa?

  23. Waahh naca ini jadi tau sedikit sejarah yang kental dengan semangat wanita…

    Pemainnya 3 itu mahh gak main2… Pasti fell nya dot banget

  24. Aku kok jadi galfok sama R mUhammad Musa, seorang bangsawan pada masanya yang bisa menggaji dua guru Eropa di sekolah yang didirikannya. Penasaran malah sama sejarahnya. Beruntung ya pada zaman itu ada ayah yang berwawasan luas dan anak2nya juga jadi ikut terdidik dan pd akhirnya jg punya keinginan memajukan pendidikan pribumi pd masa itu

  25. Mengenai Raden Ayu Lasminingrat ini saya baru tahu banget pas tahun 2019 lalu, ketika ada Writingthon Jelajah Kota Garut yang diantaranya menuliskan tokoh berpengaruh di Garut. Ternyata salah satunya adalah Raden Ayu Lasminingrat. Jujur, sebagai orang yang lahir dan tumbuh remaja di Garut, saya merasa malu karena tidak tahu sejarah tentang beliau sama sekali.

  26. Seru…ternyata banyak banget tokoh perempuan jaman dulu yang inspiratif ya..ini baru di sunda. Belum di daerah-daerah lainnya. Wanita Indonesia memang hebat, dan akan terus hebat.

  27. Banyak sosok inspiratif ya dari sunda ini ya kak.. Produser Ibu Heni Smith. Penulis naskah oleh Endah Dinda Jenura, Wida Waridah, Zulfa Nasrulloh & Faisal Syahreza.

  28. Ya ampun, sekeren ini acaranya.. Ah semoga acara semacam ini terus adaaaaa jadi bisa lebih mengenal ya

  29. Interesting event you have here and all those big names playing the monolog… lucky you to be there

  30. Teteh ternyata masih ada darah Jawa ya, saya pikir pure Sunda. Berarti gen dari (alm) Papa kuat. Ada garis Raden juga, pantas saja punya kharisma.

    Pilihan pemeran tokoh-tokoh perempuan dalam monolognya mantep banget. Pinter euy milihnya.
    Apalagi Raden Ayu Lasmaningrat yang diperankan Maudy. Menurutku dapet banget pembawaan karakternya.

  31. Wanodja Sunda atauvperempuan sunda ternyata banyak Juga y teh,,, Dan lebih dari sekadar menginspirasi tetapi berani bertindak dan mengambil peranan besar di Bumi Indonesia ini… Ada yg dari Cilimus Juga desa ortuku lahir itu teh

  32. super menginspirasi ya teh. aku baca nya aja bangga banget. aku harap acara seperti ini terus diadain ya teh. biar aku bisa liat langsung

  33. Terima kasih untuk Tiga Tokoh Wanodja Soenda yang sudah memperjuangkan hak-hak perempuan jaman penjajahan. Kalau nggak ada mereka semua, kita nggak akan mungkin bisa seperti sekarang. Dan jadi pengen lihat langsung pertunjukannya.

  34. Wah.. Kereen. Ada maudy juga ya mba. Sumpah kalo gak baca ini aku tuh belum tau loh sama tokoh2 ini. Keren sekali kisah2 mereka. Benar-benar menginspirasi. Jd pengen liat langsung pertunjukan ini

  35. Baca artikelnya seperti di bawa pada masa penjajahan dulu, teh. Kebayang kalau hadir langsung gimana atmosfir nya ya 😍
    Terima kasih utk sharingnya, teh

  36. Inspiratif banget kisah para wanodja sunda ini. Taunya ibu kita kartini saja, tapi aku percaya banyak banget wanita yang berupaya untuk maju & memajukan kaumnya. Salut!

  37. tiga tokoh wanodja sunda yang penuh inspirasi ya teh, sejarahnya mengukirkan nama mereka.

  38. Ada kesamaan dari ketiga tokoh wanodja Soenda ini ya, mereka semua berasal dari keluarga berada dan terpandang. Bisa mendukung perjuangan mereka untuk meningkatkan martabat perempuan dan mengajarkan banyak hal dalam pendidikan kepada kaum perempuan, yang mana di jaman itu masih amat dibatasi.
    Luar biasa nih Wanodja Soenda.

  39. Monolog & para pemainnya keren2 amataan 😍😍 dulu sering diajak mamih nonton yg pertunjukan kayak gini di saboy homan or braga… sayang skrg udah ngga pernah ikutan krn ga tau infonya, kl ada acara keren lg kayak gini, info2 yaaa

  40. Pertunjukan ini gak sekadar menarik buat hiburan tapi juga meninggalkan pengetahuan ttg sejarah masa lalu dr pahlawan emansipasi perempuan yg mungkin blm kitabtahu ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Please enter an Access Token on the Instagram Feed plugin Settings page.